Langsung ke konten utama

PERLAMBATAN LAJU KREDIT BCA DIPICU OLEH KETIDAKPASTIAN EKONOM GLOBAL

IQPlus, Manajemen PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyampaikan bahwa ketidakpastian ekonomi global menjadi salah satu pemicu perlambatan laju kredit. Demikian disampaikam Direktur BBCA, Rudy Susanto di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Rabu.

Meski demikian, kata Rudy, kalau dilihat secara umum kondisi perekonomian Indonesia masih relatif lebih baik. "Kami bukan mengerem (penyaluran) kredit, tetapi situasi yang membuat kami tidak bisa mengejar penyaluran kredit secara cepat. Karena, kami melihat kondisi ekonomi global,"ungkapnya.

"Kami akui kondisi global sedang jelek. Jad, otomatis kami tidak bisa mengejar penyaluran kredit seperti tahun lalu yang bisa bertumbuh sekitar 12-14 persen," tutur Rudy.

Dia mengaku, hingga saat ini kondisi likuiditas BBCA masih memadai untuk melakukan penyaluran kredit, bahkan tingkat loan to deposit (LDR) perseroan masih sebesar 80%. "Jadi, kami tidak terlalu mengejar likuiditas, misalnya mengejar dari deposito. Bahkan, kami sudah menurunkan bunga deposito sebanyak dua kali. Turun dua kali 0,25%," katanya.

Lebih lanjut Rudy menegaskan, ketidakpastian ekonomi global belum memaksa BBCA untuk mengubah strategi kredit, termasuk untuk kredit yang gagal bayar. "Approach kami untuk underwriting kredit, selalu dalam dalam keadaan normal, meski pun saat keadaan jelek. Kami selalu prudent. Karena kalau dalam keadaan bagus kami tidak prudent, maka kalau ada keadaan jelek, otomatis kreditnya menjadi jelek," paparnya.

Terkait dengan kredit sindikasi, kata Rudy, BBCA juga tidak berada dalam situasi menahan penyaluran kredit. "Kalau untuk sindikasi, itu memang untuk membagi-bagi risiko. Daripada kami mengambil Rp1 triliun sendiri, lebih baik dibagi-bagi dengan cuma mengambil Rp200 miliar atau Rp300 miliar," imbuhnya.

Langkah tersebut, jelas dia, bukan semata-mata untuk menghindari risiko atau bahkan mengerem kredit, tetapi sebagai upaya membagi porsi kredit. "Misalnya ada fasilitas atau permintaan yang terlalu besar, seperti PLN yang sekali minta sebesar Rp3 triliun atau Rp4 triliun. Tidak mungkin kami masuk sendiri. Karena, sindikasi cuma sarana untuk memberikan pinjaman yang tepat ke nasabah," ujar Rudy.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perubahan Jam Bursa Saham Indonesia

TELKOMGROUP DUKUNG PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR IBU KOTA BARU

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) mendukung penuh rencana pemerintah memindahkan ibu kota ke Kalimantan Timur melalui pembangunan infrastruktur yang telah dibangun jauh sebelum adanya wacana pemindahan ibu kota. Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah dalam keterangan di Jakarta, Sabtu, mengatakan hal itu sejalan dengan komitmen pemerintah melakukan pemerataan konektivitas di seluruh negeri dengan menggelar jaringan tulang punggung pita lebar serat optik. "Jaringan infastruktur 'backbone' digital yang telah digelar ini membuat posisi ibu kota baru Indonesia di Kalimantan berada tepat di tengah-tengah Nusantara sehingga memiliki akses digital dengan kecepatan dan keandalan tinggi menuju seluruh pelosok Indonesia," katanya. Pemerataan konektivitas dan akses informasi hingga ke seluruh pelosok negeri juga menjadi satu hal yang ditekankan Ririek dalam menyambut Hari Bhakti Postel yang diperingati setiap tanggal 27 September. Lebih lanjut, khusus wilayah...

Tiga BUMN Menikmati Gurihnya Bisnis Bank Garansi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank-bank BUMN optimistis bisnis kredit non tunai melalui layanan bank garansi masih memiliki potensi untuk tumbuh di tahun ini. Prospeknya sejalan dengan komitmen pemerintah dalam pembangunan infrastruktur. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) misalnya telah berhasil membukukan volume bisnis jasa bank garasi sebesar Rp 20,5 triliun hingga Agustus 2019. Dari situ, BRI telah berhasil membukukan pendapatan komisi sebesar Rp 107,2 miliar. "Sektor penyumbang terbesar bisnis bank garansi BRI berasal dari konstruksi dan perdagangan," ungkap Hary Purnomo, Sekretaris BRI, Rabu (18/9). Untuk mendorong pertumbuhan bisnis bank garansi, BRI melakukan inovasi berupa penerbitan bank garansi (BG), standby letter of credit (SBLC) dan demand guarantee secara online. Melalui inovasi tersebut, pengajuan bank garansi serta proses pengecekan dapat dilakukan secara digital melalui sistem cash management BRI. Bisnis bank garansi PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga hingga Agust...